TANGERANG — Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik menyatakan pihaknya telah mematangkan langkah mitigasi dan penguatan sarana prasarana untuk mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi. Pemetaan wilayah rawan disusun secara akademis melalui dokumen kajian risiko bencana yang dikerjakan bersama perguruan tinggi setempat.

Dari kajian itu, potensi banjir mencakup hampir 70 persen wilayah Kabupaten Tangerang. Kawasan utara menjadi wilayah paling rentan, sementara Sepatan, Kelapa Dua, Cisauk, hingga Curug juga berpotensi terdampak bila debit air Sungai Cisadane meningkat.

Mengapa Kawasan Utara Paling Rentan Terdampak Banjir?

Menurut Taufik, risiko di sejumlah kecamatan tidak hanya ditentukan curah hujan lokal. Limpasan kiriman debit air dari wilayah penyanggah, terutama Bogor, turut memengaruhi kondisi Sungai Cisadane.

"Utara itu lebih rentan dengan banjir, tetapi wilayah seperti Kelapa Dua dan Sepatan juga berpotensi terdampak jika Sungai Cisadane meluap. Kondisi ini sangat bergantung pada curah hujan dan kiriman debit air dari wilayah Bogor," kata Taufik di Tangerang, Rabu.

Karena itu, BPBD terus melakukan evaluasi dan penyesuaian strategi mitigasi di lapangan. Penyesuaian itu berkaca pada pola kejadian kebencanaan tahun-tahun sebelumnya.

Armada Evakuasi Bertambah dari 5 Unit Jadi Lebih dari 50 Perahu

Penguatan sarana prasarana terlihat dari penambahan armada evakuasi air. Pada pertengahan 2025, BPBD hanya memiliki sekitar empat hingga lima unit perahu.

"Pada pertengahan 2025 perahu yang kita miliki hanya sekitar empat atau lima unit. Saat ini sudah ada lebih dari 25 unit perahu karet dan 25 unit perahu fiber," papar Taufik.

Seluruh peralatan evakuasi itu telah didistribusikan penuh ke pos pemadam kebakaran (Damkar) yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Tangerang. Distribusi ke pos-pos terdekat dimaksudkan mempercepat respons saat banjir terjadi.

Logistik dan Tenda Pengungsian Disiagakan

Selain perahu, BPBD menyiagakan mesin pompa penyedot air portabel untuk menguras genangan di pemukiman padat maupun fasilitas publik seperti pondok pesantren. Sebanyak 15 unit tenda pengungsian skala besar dan kecil juga telah didistribusikan.

"Selain perahu evakuasi, BPBD juga menyiagakan mesin pompa penyedot air portabel untuk menguras genangan di pemukiman padat maupun fasilitas publik seperti pondok pesantren, serta mendistribusikan 15 unit tenda pengungsian skala besar dan kecil," ujar Taufik.

Pemenuhan logistik dan armada penanggulangan bencana dilakukan secara berkala. Langkah ini untuk memaksimalkan evakuasi warga ketika musim penghujan penuh atau kategori masa transisi tiba di akhir tahun 2026.

Reporter: Redaksi