JAKARTA — Helmi menyampaikan desakan itu dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (17/9/2026). Ia menyoroti pernyataan Sudaryono yang menyebut ada tiga akar keramaian isu MBG dan menempatkan faktor politik di urutan pertama.
Menurut Helmi, pernyataan Kepala BGN itu tidak hanya keliru, tetapi juga menunjukkan tidak adanya empati terhadap korban. Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukanlah pemberitaan atau pandangan politik, melainkan makanan yang dikonsumsi anak-anak.
Sudaryono Tuding Guru, Orang Tua, dan Wartawan "Meramaikan" Isu MBG
Dalam pernyataannya yang disampaikan baru-baru ini, Sudaryono menyebut tiga akar keramaian isu MBG dan menempatkan faktor ideologis-politis di posisi teratas. Ia secara spesifik menyoroti peran guru, orang tua siswa, dan wartawan dalam menyebarkan isu tersebut.
"Satu, adalah ideologis, ini masalah urusan politik. Nomor satu. Yang ramein gurunya, yang ramein orang tua siswanya, yang ramein adalah wartawannya, yang ramein adalah orang-orang oknum yang LSM dan lain sebagainya, itu ideologis politis," kata Sudaryono.
Pernyataan itu dinilai Helmi justru memperkeruh situasi di tengah laporan keracunan yang masih terus berdatangan. Alih-alih meredam kepanikan publik, pernyataan tersebut dianggap menyalahkan pihak-pihak yang seharusnya dilindungi.
PWI: Masalahnya Ada di Internal BGN dan SPPG
Helmi menegaskan bahwa sumber masalah keracunan MBG berada di internal BGN dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menyebut masalahnya sederhana dan kasatmata, yakni makanannya, bukan sekolah dan bukan pemberitaan.
"Kepala BGN harusnya introspeksi. Keracunan MBG terjadi karena ada persoalan serius dalam desain kebijakan BGN sendiri. Masalahnya ada di internal BGN dan SPPG. Jadi salah alamat kalau yang disalahkan guru, sekolah, dan wartawan," kata Helmi.
Ia juga mempertanyakan langkah BGN yang justru mengumpulkan para kepala sekolah untuk program literasi gizi, di saat laporan keracunan masih terus berdatangan. Menurutnya, langkah itu tidak menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.
"Yang keracunan itu anak-anak yang makan, bukan anak-anak yang membaca berita," sindirnya.
Helmi: Apakah Puluhan Ribu Korban Keracunan Gara-gara Ideologi?
Soal tudingan ideologis yang dilontarkan Sudaryono, Helmi menilai pernyataan itu nihil empati terhadap korban. Ia mempertanyakan apakah puluhan ribu orang yang mengalami keracunan bisa dijelaskan sebagai akibat perbedaan pandangan politik.
"Kepala BGN harus bisa menjelaskan: apakah puluhan ribu orang yang keracunan itu karena masalah ideologi? Mereka muntah dan dirawat gara-gara beda pandangan politik?" ujarnya.
Helmi menegaskan bahwa desakan mundur dan permintaan maaf terbuka bukan sekadar soal sikap, melainkan bentuk tanggung jawab atas kebijakan yang berdampak langsung pada kesehatan anak-anak.
BGN Akui Ada Celah di Lapangan
Di sisi lain, BGN mengakui adanya celah di lapangan dalam pelaksanaan program MBG. Lembaga itu menegaskan bahwa pihak dapur dan pengawas gizi di SPPG sebenarnya wajib mencicipi makanan sebelum didistribusikan.
Prosedur tersebut, bila benar dijalankan, seharusnya menyaring makanan bermasalah sejak dari dapur. Pengakuan ini muncul di tengah desakan publik agar BGN membenahi tata kelola program ketimbang menyalahkan pihak luar.
Hingga keterangan itu disampaikan, belum ada pernyataan resmi dari Sudaryono atau BGN terkait desakan mundur yang disampaikan PWI Jakarta Pusat.