PANDEGLANG — Santunan bagi 2.000 lebih anak yatim itu menjadi bagian dari rangkaian deklarasi kedua BPPKB Banten HDS. Acara digelar di Aksi Carwash, Jalan Raya Pandeglang-Rangkasbitung, Kampung Turus, Kelurahan Kabayan, Pandeglang. Selain penyerahan santunan, kegiatan diisi tabligh akbar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ketua BPPKB Banten HDS, Adi Kurnia Setiadi, menyebut angka 2.000 anak yatim bukan sekadar statistik. Menurutnya, santunan itu menyangkut harapan dan masa depan anak-anak.

"Bagi saya Adi Kurnia sebanyak 2000 anak yatim itu bukan sekedar angka tapi ini tentang sebuah harapan dan masa depan anak-anak kita. Jadi, pesan moral yang ingin saya sampaikan adalah BPPKB Banten HDS ini hadir untuk memberikan solusi," katanya, Minggu, 27 September 2026.

Organisasi Berusia 4 Bulan, Sudah Terbentuk di 24 DPC

BPPKB Banten HDS lahir berbarengan dengan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Artinya, organisasi ini baru berumur 4 bulan sejak dibentuk.

Dalam rentang 127 hari, organisasi sudah membentuk kepengurusan di tiga provinsi dan 24 DPC. Capaian itu disampaikan Adi usai deklarasi kedua di Pandeglang.

"Setelah deklarasi, kita sudah terbentuk di tiga provinsi dan 24 DPC. Selama dalam waktu selama 127 hari," ujarnya.

Adi Kurnia: BPPKB Ingin Ubah Stigma Lewat Sinergi

Adi berharap BPPKB Banten HDS menjadi solusi dan pilot project untuk kebaikan serta kebermanfaatan. Ia tidak ingin organisasi ini menimbulkan masalah, melainkan bisa bersinergi dengan semua pihak.

Organisasi ini membawa moto berilmu, bertaqwa, dan beriman. Adi menyadari ada stigma kurang baik yang melekat pada organisasi kemasyarakatan. Ia ingin BPPKB Banten HDS mengubah stigma itu dengan ikut menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

"BPPKB Baru kami punya moto berilmu bertaqwa dan beriman. Kami ingin memberikan organisasi dengan warna berbeda mohon maaf stigma hal kurang baik insyaallah di BPPKB Banten HDS kita ingin mengubah stigma itu, dengan ikut serta menjaga khamtibmas," katanya.

Tujuan Berkumpul: Kebaikan, Bukan Siapa yang Hebat

Adi menegaskan, tujuan berkumpul dalam organisasi ini bukan untuk bicara siapa yang hebat, siapa yang menang, siapa yang gagah, atau siapa yang lebih pintar. Titik beratnya adalah kebaikan dan kebermanfaatan.

Ia mengutip pepatah Jawa "tak kenal maka tak sayang" untuk menggambarkan pentingnya saling mengenal. Menurutnya, orang baik yang dibalas dengan kebaikan adalah hal biasa, sedangkan simbiosis mutualisme yang harus dipelajari adalah tetap menjadi orang baik meski dihadapkan pada orang yang tidak baik.

"Makanya saya ada pepatah Jawa, tak kenal maka tak sayang. Kalau orang baik dibalas dengan kebaikan dalam hidup itu hal biasa, simboisme mutualisme yang sama-sama harus kita belajar adalah orang tidak baik kita tetap harus menjadi orang baik," ujarnya.

Reporter: Redaksi